Pentingnya Deteksi Dini untuk Cegah Kanker Serviks

SEMARANGJoglo Jateng – Deteksi dini untuk mengetahui ada tidaknya kanker serviks menjadi hal penting. Pasalnya di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua setelah kanker payudara. Smentara kanker menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah penyakit kardiovaskuler.

Dokter Spesialis Patologi Anatomi RSUD Tugurejo, Maya Damayanti menuturkan, ada beberapa cara untuk deteksi dini kanker leher rahim itu. Yaitu Inspeksi visual asetat (IVA) dan pap smear.

“Pap smear itu pemeriksaan yang cepat tanpa rasa sakit. Sehingga, akurasi pemeriksaan pap smear lebih tinggi dibandingkan IVA. Dikarenakan hasil pemeriksaan Pap smear dilihat menggunakan alat mikroskop,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada Joglo Jateng, kemarin.

Menurutnya, pap smear sebaiknya dilakukan pada wanita yang sudah menikah sampai usia 65 tahun. Meskipun KPKN Kemenkes (Komite Penanggulangan Kanker Nasional Kementrian Kesehatan ) menganjurkan skrining kanker serviks dengan IVA atau Pap smear sejak usia 20-74 tahun.

“Pap smear sebaiknya dilakukan secara berkala 1-3 tahun sekali. Walaupun wanita itu tidak punya keluhan. Kecuali jika ada kelainan pada serviks yang memerlukan evaluasi lebih lanjut,” kata dokter Maya.

Untuk faktor resiko terjadinya kanker serviks, lanjutnya, ada beberapa hal. Seperti aktifitas seksual pada usia muda, keinginan seksual dengan multipartner, merokok, dan mempunyai anak banyak. “Gejalanya tidak khas, terutama stadium dini. Seringnya saat keputihan dengan sedikit  darah. Lalu perdarahan post koital dan saat menstruasi  memanjang,” ungkapnya.

Selain itu, ia menganjurkan, pemeriksaan dengan Pap smear dilakukan setiap waktu di luar masa haid. Yaitu sesudah hari ke-7 sampai dengan masa premenstruasi.

Oleh sebab itu, ia berpesan, bagi wanita yang pernah melakukan hubungan seksual penting untuk skrining kanker serviks. Selain itu, menghindari faktor resiko juga menjadi langkah  penting dengan menerapkan gaya hidup sehat. “Mulailah dari sekarang, saat ini dan hari ini juga. Karena akan lebih efektif untuk mencegah daripada mengobati,” ajak dokter Maya.

Adapun data Globocan tahun 2020 mencatat, total kasus kanker di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 396.914. Lalu, total kematian sebesar 234.511 kasus. Sementara kanker serviks, lebih dari 36.000 kasus dengan 21.000 kematian. (ziz)

Visitasi PPID 2022
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RSUD TUGUREJO! KAMI BERKOMITMEN MENYEDIAKAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG DISABILITAS PADA WEBSITE KAMI

Skip to content