Lebih Aware dan Kenali Gejala Penyakit Kusta

SEMARANGJoglo Jateng – Penyakit kusta masih ada di lingkungan sekitar. Masyarakat sedianya aware terhadap penyakit ini maupun dengan para penderitanya. Sehingga, perlu kenali gejala dari penyakit menular tersebut.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD Tugurejo, Irma Yasmin mengungkapkan, kusta ini merupakan penyakit menular namun sulit sekali untuk menular. Kalau ada yang tertular, maka orang itu memiliki daya tahan tubuh yang rendah.

“Walaupun sering kontak dengan penderita kusta, tidak semudah itu ketularan. Karena, 95 persen manusia di dunia sebenarnya kebal terhadap kusta. Hanya lima persen sisanya yang imunnya rendah rentan tertular,” ujarnya saat dihubungi di Semarang, (29/01/2023).

Menurutnya, kusta ini menyerang seluruh anggota tubuh. Mulai dari kulit dan saraf. Kecuali hanya bagian otak yang tidak diserang. Perkembangan penyakit ini pun lambat. Bisa 5, 10 atau 20 tahun. Meski demikian, kusta tidak menyebabkan kematian.

“Yang merugikan itu di efek kecacatannya. Jika tertular, nantinya menimbulkan cacat. Bisa juga mengakibatkan pendarahan, infertilitas, atau kebutaan. Misal ada jari, tangan, atau kaki putus, itu karena tidak diobati. Jika diobati, maka tidak ada pasien kusta yang berakibat seperti itu,” bebernya.

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia masih menjadi penyumbang kusta tertinggi ketiga di dunia, setelah India dan Brazil. Sedangkan, Kementerian Kesehatan RI mencatat data per 24 Januari 2022, kasus aktif kusta sebanyak 13.487. Dengan 7.146 merupakan kasus kusta baru. Di Jawa Tengah sendiri, kasus tersebut masih ditemukan.

Oleh karenanya, Dokter Irma mengajak untuk aware dan kenali gejalanya. Menurutnya, untuk deteksi dini sangat mudah. Penderita kusta selalu diawali dengan bercak dikulit, entah itu putih panu atau merah alergi atau kecokelatan.

“Tidak gatal dan muncul rasa baal atau mati rasa. Nah itu yang paling khas. Kalau cuma makan bareng, jabat tangan atau berpelukan maka tidak tertular. Juga daya tahan tinggi, meskipun bertemu tiap hari tidak akan tertular,” tambahnya.

Jadi, lanjutnya, kalau timbul bercak itu sesegera mungkin diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Jika memang dinyatakan positif harus langsung segera diobati.

Sementara itu, ia mengatakan, peringatan Hari Kusta Sedunia ini jatuh pada hari Minggu terakhir bulan Januari. Tujuannya hari kusta sedunia ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penyakit kusta itu masih ada.

“Kita harapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap para penderita kusta. Karena selama ini masih terjadi diskriminasi dan stigma-stigma kurang baik,” terangnya.

Menurutnya, kusta hanya infeksi biasa seperti penyakit pada umumnya. Jadi tidak perlu khawatir, tak perlu ketakutan yang berlebihan. “Kita bisa hidup berdampingan dengan para penyandang penyakit kusta ini dan memberikan support moral,” katanya.

“Karena kalau tidak begitu, tanpa dukungan dari lingkungan, mereka dalam menyelesaikan pengobatan dengan jangka panjang itu akan jadi pesimis,” tukas Dokter Irma.(ziz)

Please follow and like us:
error

Suka dengan Artikel ini, Bagikan !

Skip to content